" Issue Hangat Mengenai Kembali Menguatnya Nilai Tukar Rupiah "
Pada 6 Oktober untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, rupiah mencatatkan kenaikan paling tinggi, atau naik 260 poin ke angka Rp 14.241 per dolar AS.
Menguatnya rupiah berbarengan dengan menguatnya mata uang Malaysia, ringgit. Kedua mata uang ini terpuruk paling dalam ketika dolar AS menguat dalam beberapa bulan terakhir.
“Karena terpuruk paling dalam, maka ketika dolar AS melemah, naiknya paling signifikan,” kata Mirza Adityaswara, deputi senior Gubernur Bank Indonesia, ketika dikontak, sesaat setelah pengumuman Paket Ekonomi Jilid 3, Rabu, 7 Oktober.
Menurut Mirza, faktor yang menguatkan rupiah adalah situasi global, terutama apa yang terjadi di AS.
“Konsensus bergeser, mengenai kapan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan. Setelah ditunggu sampai kuartal ketiga, nampaknya tahun ini Fed tidak akan menaikkan suku bunganya. Ini menyebabkan mereka yang ambil long position, melepas dolar untuk cut loss atau mengurangi kerugian,” ujar Mirza.
Departemen Perdagangan merilis angka Defisit perdagangan AS pada Agustus, yang melebar menjadi US$ 48,33 miliar dibandingkan US$ 41,81 miliar pada Juli 2015. Pasar menduga bahwa defisit perdagangan AS akan mencapai US$ 47,40 miliar Agustus ini. Ternyata lebih buruk.
Parameter ekonomi AS lainnya, seperti ekspor, juga turun dua persen ke angka terendah sejak Oktober 2012. Impor naik 1,2 persen, meskipun AS sebenarnya sudah mengurangi impor minyak sejak September 2004.
“Karena melemahnya rupiah selama ini dipicu oleh situasi global, terutama AS, maka kalau AS melambat, mata uang kita menguat,” kata Mirza.
Ini justru harus diwaspadai, karena Pemerintah AS tentu tidak tinggal diam dengan kondisi ekonominya.
Mirza menggarisbawahi pentingnya melakukan reformasi struktural di sektor riil untuk menguatkan kepercayaan terhadap ekonomi yang pasti berdampak kepada penguatan rupiah secara berkelanjutan.
“Tapi diingat juga bahwa nilai rupiah saat ini masih undervalued, dan sebenarnya baik untuk ekspor manufaktur kita,” kata Mirza.
Rabu sore ini pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo meluncurkan Paket Ekonomi Jilid 3 untuk memulihkan perekonomian yang melambat. Harga premium dipatok tetap, dan insentif harga listrik diberikan untuk menolong industri.
Laman Bank Indonesia menurunkan klarifikasi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang sebelumnya mengkritisi wacana pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak untuk mendukung pemulihan ekonomi.
“Gubernur Bank Indonesia mendukung kebijakan ekonomi pemerintah sepanjang tetap mempertimbangan konsistensi terhadap kebijakan sebelumnya. Kenaikan BBM jika dilakukan, harus didasarkan kepada perhitungan yang kredibel,” demikian isi pernyataan itu.
Selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menurut Mirza, penguatan rupiah juga didorong oleh ekspektasi publik terhadap implementasi paket ekonomi Jokowi. Kurs valas adalah cerminan penawaran dan permintaan. Untuk menguatkan rupiah, perlu mendatangkan devisa.
Dalam paket ekonomi sebelumnya ada kemudahan dan insentif untuk pariwisata, penanaman modal asing maupun dalam negeri, juga untuk impor bahan baku dan penunjang.
Dua hari ini beredar informasi bakal masuknya dana dalam jumlah besar, dari hasil right issue atau penerbitan saham baru yang dilakukan emiten PT Hanjaya Mandala Sampoerna, produsen rokok terkemuka. Informasi ini sudah beredar sejak Agustus lalu, bahwa Sampoerna bakal melakukan right issue senilai US$ 1,94 miliar, yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir di bursa saham Indonesia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar